Friday, 12 June 2015

LANDASAN FALSAFAH DALAM TIK








BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Perkembangan teknologi komunikasi dan informasi telah menjadi pemicu terhadap upaya perubahan sistem pembelajaran di sekolah. Kondisi sekolah, senantiasa dituntut untuk terus-menerus mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang pesat, sehingga sekolah yang tetap berkutat pada instruksional kurikulum hanya akan membuat peserta didik gagap melihat realitas yang mengepungnya. Pengertian teknologi komunikasi sendiri memiliki pengertian sebagai suatu poses yang meliputi proses itu harus rasional dan efisien, harus bersistem, harus mengarah pada pemecahan masalah bersama, memadukan berbagai prinsip, konsep dan gagasan dan memperimbangkan kondisi lingkungan. Pemanfaatan teknologi merupakan kebutuhan mutlak dalam dunia pendidikan sehingga sekolah benar-benar menjadi ruang belajar dan tempat siswa mengembangkan kemampuannya secara optimal, dan nantinya mampu berinteraksi ke tangah-tengah masyarakatnya. Sekolah sebagai lembaga pendidikan harus mampu untuk memiliki teknologi penunjang sehingga bisa menjadikannya sebagai media pembelajaran yang menarik, interaktif, dan mampu mengembangkan kecakapan personal secara optimal, baik kecakapan, kognitif, afektif, psikomotrik, emosional dan spiritualnya.
Dengan adanya teknologi komunikasi dan informasi dalam teknologi pendidikan Sehingga tercipta metode belajar yang lebih menarik dan efektif yang digunakan sebagai fasilitas pembelajaran, diharapkan dapat menumbuhkan motivasi siswa dalam proses pembelajaran. Dengan rendahnya motivasi dan terbatasnya fasilitas dapat mengakibatkan lambannya peningkatan mutu pendidikan. Teknologi diterapkan di semua bidang kehidupan diantaranya bidang pendidikan. Teknologi modern dalam bidang komunikasi dengan produk yang berupa peralatan elektronik dan bahan ( software ) yang disajikannya telah mempengaruhi seluruh sektor kehidupan termasuk pendidikan. Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) telah memberikan pengaruh terhadap dunia pendidikan khususnya dalam proses pembelajaran.[1]



B.     Rumusan Masalah      
1)      Apa landasan teknologi informatika dalam pembelajaran?
2)      Bagaimana falsafah dalam pembelajaran (TIP)?
3)      Metode/teknologi apakah yang digunakan dalam pembelajaran (TIP)?

C.     Tujuan Masalah
1.      Untuk mengetahui arti teknologi informatika pembelajaran.
2.      Memahami falsafah pembelajaran.
3.      Untuk mempraktekkan cara-cara atau metode yang digunakan dalam pembelajaran.

BAB II
PEMBAHASAN
                                                                                 
A.    PENGERTIAN FALSAFAH TEKNOLOGI PEMBELAJARAN

Yang dimaksud dengan istilah falsafah disini adalah rangkaian pernyataan yang di dasarkan pada keyakinan, konsepsi dan sikap seseorang, yang menunjukkan arah atau tujuan yang diambilnya. Rumusan ini sejalan dengan apa yang dikemukakan Ely, dimana seseorang memberikan arti atas suatu gejala subjektif mungkin. Usaha memberikan arti itu dalam tulisan ini didasarkan oleh pengalaman empirik atas sejumlah data yang diamati, merupakan generalisasi dari berbagai gagasan yang berkaitan dengan rujukan tertentu.
Teknologi merupakan bagian integral dalam setiap budaya. Makin maju suatu budaya, makin banyak dan makin canggih teknologi yang digunakan. Meskipun demikian masih banyak di antara kita yang tidak menyadari akan hal itu. Sebenarnya 25 tahun yang lalu Menteri Pendidikan Daoed Joesoef telah menyatakan bahwa teknologi diterapkan di semua bidang kehidupan, di antaranya bidang pendidikan. Teknologi pendidikan ini karenanya beroperasi dalam seluruh bidang pendidikan secara integratif, yaitu secara rasional berkembang dan terjalin dalam berbagai bidang penididikan”.[2]
                                                                         
B.     LANDASAN FALSAFAH TEKNOLOGI PEMBELAJARAN

Asumsi yang Melandasi Teknologi Pendidikan dalam makalahnya, Prof. Yusufhadi Miarso, menjelaskan tentang makna falsafah dengan mengutip pendapat Donald Ely (1980) sebagai, “Rangkaian pernyatan yang didasarkan pada keyakinan, konsepsi dan sikap seseorang yang menunjukkan arah atau dimana seseorang memberikan arti atas suatu gejala subyektif mungkin.” Disamping itu dijelaskan pula tentang teori dengan mengutip pendapat Snelbecker (1974). Dimana, definisi umum tentang teori adalah, “Segala aspek ilmu yang tidak semata-mata bersifat empirik.” Sedangkan secara khusus, teori adalah, “Ringkasan pernyataan yang melukiskan dan menata sejumlah pengamatan empirik.” [3]
Salah satu adalah landasan filosofis yang dapat dikaji melalui tiga kajian filsafat yaitu:
a)      Ilmu dan pengetahuan berkembang dengan pesat membawa implikasi bagi kebanyakan orang untuk mengikuti perkembangan itu.
b)      Pertumbuhan penduduk akan senantiasa terjadi meskipun dengan derajat perbandingan yang kian mengecil. Perkembangan penduduk ini membawa implikasi makin banyaknya mereka yang perlu memperoleh pendidikan.
c)      Terjadinya perubahan-perubahan mendasar dan bersifat menetap di bidang social, politik, ekonomi, industri atau secara luas kebudayaan yang menghendaki re-edukasi atau pendidikan terus menerus bagi semua orang.
d)     Penyebaran teknologi kedalam kehidupan masyarakat yang makin meluas. Masyarakat mengandung budaya teknologi, yang mempengaruhi segenap bidang kehidupan, termasuk didalam bidang pendidikan.
e)      Makin terbatasnya sumber-sumber tradisional sehingga harus diciptakan sumber-sumber baru dan sementara itu memanfaatkan sumber yang semakin terbatas itu secara lebih berdaya guna dan berhasil guna. Termasuk dalam sumber tradisional ini adalah sumber insani untuk keperluan pendidikan.
                                 
Filsafat dalam pendidikan merupakan teori umum dari pendidikan, landasan dari semua pemikiran mengenai pendidikan, atau dapat dikatakan sebagai teori yang dipakai dasar bagaimana “pendidikan itu dilaksanakan” sehingga mencapai tujuan. Oleh karena itu, sebagai sebuah ilmu teknologi pendidikan juga memiliki landasan. Salah satunya adalah landasan filosofis yang dapat dikaji melalui tiga kajian filsafat yaitu ontology, epistimologi, dan aksiologi, diantaranya sebagai berikut:[4]
Dalam menjawab landasan filosofis teknologi pendidikan, maka perlu dijawab tiga hal, yaitu ontologi (apa), epistemology (bagaimana) dan aksiologi (untuk apa).[5]


1.      Ontologi
Ontologi bertolak atas penyelidikan tentang hakekat ada (existence and being) (Brameld, 1955: 28). Pandangan ontologi ini secara praktis akan menjadi masalah utama di dalam pendidikan. Sebab, siswa (peserta didik) bergaul dengan dunia lingkungan dan mempunyai dorongan yang kuat untuk mengerti sesuatu. Oleh karena itu teknologi pendidikan dalam posisi ini sebagai bagian pengembangan untuk memudahkan hubungan siswa atau peserta didik dengan dunia lingkungannya. Peserta didik, baik di masyarakat atau di sekolah selalu menghadapi realita dan obyek pengalaman.
Secara tersusun Chaeruman dalam tulisannya mengutip tulisan Prof. Yusuf Hadi Miarso bahwa ontology teknologi pendidikan adalah :
a)      Adanya sejumlah besar orang belum terpenuhi kesempatan belajarnya, baik yang diperoleh melalui suatu lembaga khusus, maupun yang dapat diperoleh secara mandiri.
b)       Adanya berbagai sumber baik yang telah tersedia maupun yang dapat direkayasa, tapi belum dimanfaatkan untuk keperluan belajar.
c)       Perlu adanya suatu proses atau usaha khusus yang terarah dan terencana untuk menggarap sumber-sumber tersebut agar dapat terpenuhi hasrat belajar setiap orang dan organisasi.
d)     Perlu adanya keahlian dan pengelolaan atas kegiatan khusus dalam mengembangkan dan memanfaatkan sumber untuk belajar tersebut secara efektif, efisien, dan selaras.

2.      Epistemologi
Epistomologi atau Teori Pengetahuan berhubungan dengan hakikat dari ilmu pengetahuan, pengandaian-pengandaian, dasar-dasarnya serta pertanggung jawaban atas pernyataan mengenai pengetahuan yang dimiliki oleh setiap manusia. Pandangan epistemologi tentang pendidikan akan membahas banyak persoalan-persoalan pendidikan, seperti kurikulum, teori belajar, strategi pembelajaran, bahan atau sarana-prasarana yang mengantarkan terjadinya proses pendidikan, dan cara menentukan hasil pendidikan. M. Arif berpendapat bahwa epistimologi (bagaimana) yaitu merupakan asas mengenai cara bagaimana materi pengetahuan diperoleh dan disusun menjadi suatu tubuh pengetahuan. Ada 3 isi dari landasan epistimologi teknologi pendidikan yaitu :
a)       Keseluruhan masalah belajar dan upaya pemecahannya ditelaah terdahulu. Semua situasi yang ada diperhatikan dan dikaji saling kaitannya dan bukannya dikaji secara terpisah-pisah.
b)       Unsur-unsur yang berkepentingan diintegrasikan dalam suatu proses kompleks secara sistematik yaitu dirancang, dikembangkan, dinilai dan dikelola sebagai suatu kesatuan, dan ditujukan untuk memecahkan masalah.
c)      Penggabungan ke dalam proses yang kompleks dan perhatian atas gejala secara menyeluruh, harus mengandung daya lipat atau sinergisme, berbeda dengan hal dimana masing-masing fungsi berjalan sendiri-sendiri.

Sedangkan menurut Abdul Gafur (2007) untuk mendapatkan teknoogi pendidikan adalah dengan cara:
a)      Telaah secara simultan keseluruhan masalah-masalah belajar.
b)      Pengintegrasian secara sistemik kegiatan pengembangan, produksi, pemanfaatan, pengelolaan, dan evaluasi.
c)      Mengupayakan sinergisme atau interaksi terhadap seluruh proses pengembangan dan pemanfaatan sumber belajar.
                                   
3.      Aksiologi
Aksiologi (axiology), suatu bidang yang menyelidiki nilai-nilai (value) (candilaras, 2007). Menurut Wijaya Kusumah dalam kajian aksiologi, yaitu apa nilai atau manfaat pengkajian teknologi pendidikan bisa diaplikasikan dalam beberapa hal, diantaranya:
a)      Peningkatan mutu pendidikan (menarik, efektif, efisien, relevan).
b)      Penyempurnaan sistem Pendidikan.
c)      Meluas dan meratanya kesempatan serta akses pendidikan.
d)     Penyesuaian dengan kondisi pembelajaran.
e)      Penyelarasan dengan perkembangan lingkungan.
f)       Peningkatan partisipasi masyarakat.  

Sedangkan M. Arif menyatakan bahwa Aksiologi (untuk apa) yaitu merupakan asas dalam menggunakan pengetahuan yang telah diperoleh dan disusun dalam tubuh pengetahuan tersebut. Landasan pembenaran atau landasan aksiologis teknologi pendidikan perlu dipikirkan dan dibahas terus menerus karena adanya kebutuhan riil yang mendukung pertumbuhan dan perkembangannya. Menurutnya, landasan aksiologis teknologi pendidikan saat ini adalah:
a)    Tekad mengadakan perluasan dan pemerataan kesempatan belajar.
b)   Keharusan meningkatkan mutu pendidikan berupa, antara lain:

Dalam hal ini Teknologi Pembelajaran  secara aksiologis akan menjadikan pendidikan menjadi:
1.      Produktif
2.      Ilmiah
3.      Individual
4.      Serentak / actual
5.      Merata
6.      Berdaya serap tinggi
Teknologi Pembelajaran juga menekankan pada nilai bahwa kemudahan yang diberikan oleh aplikasi teknologi bukanlah tujuan, melainkan alat yang dipilih dan dirancang strategi penggunaannya agar menumbuhkan sifat bagaimana memanusiakan teknologi (A.L Zachri:2004).

C.     DEVINISI TEKNOLOGI PENDIDIKAN

Definisi teknologi pendidikan pada awal tahun 1920 dipandang sebagai media. Akar terbentuknya pandangan ini terjadi ketika pertama kali diproduksi media pendidikan pada awal abad dua puluhan. Media ini, sebagai media pembelajaran visual yang berupa film, gambar dan tampilan yang mulai ramai pada tahun 1920. definisi formal pembelajaran visual terfokus pada media yang digunakan untuk menampilkan sebuah pelajaran. Pandangan ini berlanjut sampai 1950.
Awal tahun 1950, khususnya selama tahun 1960 dan 1970 sejumlah ahli dalam bidang pendidikan mulai mendiskusiakan teknologi pendidikan dalam suatu yang berbeda. Mereka membahasnya sebagai suatu proses. Contohnya Finn (1960) mengatakan bahwa teknologi pendidikan harus dipandang sebagai suatu cara untuk melihat masalah pendidikan dan mneguji kemungkinan solusi dari masalah tersebut. Sedangkan Lumsdaine (1964) mengatakan bahwa teknologi pendidikan dapat dijadikan aplikasi ilmu pengetahuan pada praktek pendidikan. Pada tahun 1960an dan 1970 banayak definisi teknologi pendidikan yang dipandang sebagai suatu proses.
Di tahun 1963, definisi teknologi pendidikan digambarkan bukan hanya sebagai sebuah media. Definisi ini Ely menghasilkan dengan suatu komisi pengawas yang dibentuk olep Departemen Pendidikan Audiovisual (sekarang dikenal sebagai Asosiasi Teknologi dan Komunikasi Pendidikan)[6]. Definisi kini lebih memusat pada desain pembelajaran dan penggunaan media sebagai pengendalian proses belajar. Lebih dari itu pengertian kini lebih menganali serangkaian langkah-langkah penerapan, perancangan, dan penggunaan. Langkah-langkah ini mencakup perencanaan, produksi, pemilihan, pemanfaatan, dan manajemen. Perubahan disini mencerminkan bahwa, bagaimana lingkungan dan kemajuan zaman dapat mengubah sebuah definisi dan praktek dari teknologi pendidikan.
Definisi selanjutnya merupakan definisi tahun 1970-an yang dikeluarkan oleh Komisi Pengawas Teknologi Pendidikan. Komisi pengawas ini dibentuk dan dibiayai oleh pemerintah Amerika Serikat untuk menguji permasalahan dan manfaat potensial yang berhubungan dengan teknologi pendidikan di sekolah-sekolah.
Definisi tahun 1977, Teknologi Pendidikan adalah proses kompleks yang terintegerasi meliputi orang, prosedur, gagasan, sarana dan organisasi untuk menganalisa masalah dan merancang. Melaksanakan, menilai dan mengelola pemecahan masalah dalam segala aspek belajar manusia.
Dibawah ini adalah empat revolusi yang terjadi di dunia pendidikan karena adanya masalah yang tidak teratasi dengan cara yang ada sebelumnya, tetapi dilain pihak juga menimbulkan masalah baru. Masalah – masalah itu dibatasi pada masalah utama, yaitu “belajar”.[7]
 Menurut Sir Eric Ashby (1972, h. 9-10) tentang terjadinya empat Revolusi di dunia pendidikan yaitu:
1.      Revolusi pertama terjadi pada saat orang tua atau keluarga menyerahkan sebagian tanggungjawab dan pendidikannya kepada orang lain yang secara khusus diberi tanggungjawab untuk itu. Revolusi pertama ini terjadi karena orangtua/keluarga tidak mampu lagi membelajarkan anak-anaknya sendiri.
2.      Revolusi kedua terjadi pada saat guru sebagai orang yang dilimpahkan tanggungjawab untuk mendidik. Pengajaran pada saat itu diberikan secara verbal/lisan dan sementara itu kegiatan pendidikan dilembagakan dengan berbagai ketentuan yang dibakukan. Penyebab terjadinya revolusi kedua ini karena guru ingin memberikan pelajaran kepada lebih banyak anak didik dengan cara yang lebih cepat.
3.      Revolusi ketiga muncul dengan ditemukannya mesin cetak yang memungkinkan tersebarnya informasi iconic dan numeric dalam bentuk buku atau media cetak lainnya. Revolusi ketiga ini terjadi karena guru ingin mengajarkan lebih banyak lagi dan lebih cepat lagi, sementara itu kemampuan guru semakin terbatas, sehingga diperlukan penggunaan pengatahuan yang telah diramuka oleh orang lain.
4.      Revolusi keempat berlangsung dengan perkembangan yang pesat di bidang elektronik dimana yang paling menonjol diantaranya adalah media komunikasi (radio, televisi, tape dan lain-lain) yang berhasil menembus batas  geografi, sosial dan politis secara lebih intens daripada media cetak. Penyebab revolusi ini adalah karena guru menyadari bahwa tidaklah mungkin bagi guru untuk memberikan semua ajaran yang diperlukan, dan karena itu yang lebih penting adalah mengajarkan kepada anak didik tentang bagaimana belajar. Ajaran selanjutnya akan diperoleh si pembelajar sepanjang usia hidupnya melalui berbagai sumber dan saluran.[8]
                



BAB III
PENUTUP

       KESIMPULAN

Teknologi informasi pembelajaran dapat dipahami sebagai suatu proses yang kompleksdan terpadu yang melibatkan orang, ide, peralatan, dan organisasi untuk menganalisis masalah, mencari jalan untuk mengatasi permasalahan, melaksanakan, menilai, dan mengelola pemecahan masalah tersebut yang menyangkut semua aspek belajar manusia. Dengan hal demikian maka lahirlah teknologi pendidikan dari adanya permasalahan dalam pendidikan.  Dengan hal demikian dapat diambil makna pembelajaran terdapat makna inti bahwa pembelajaran harus mengandung unsur  komunikasi.


                                           DAFTAR PUSTAKA                                         

           Yusufhadi Miarso, Menyemai Benih Teknologi Pendidikan. Jakarta:Kencana. 2007.

Alam Perman, 2014. Kajian Filsafat-Dalam-Persepektif. http://manajemenhouse.blogspot.com. [24 Maret 2015].


Efri Melcom, 2013. Kaitan Antara Filsafat Dengan Ilmu. http://efrimelcom.blogspot.com. Html. [24 Maret 2015].

     
Ganjur, 2010. Landasan-Teori-Teknologi-Pendidikan-Teknologi Informasi.

     
Nasril Mokodompit, 2013. Landasan Filosofis Teknologi Pendidikan. https://nasrilmokodompit.wordpress.com. [23 Maret 2015].

     
Romi Dwi Syahri, 2013. Makalah Teknologi Pendidikan. http://www.slideshare.net/mobile/29524192. [23 Maret 2015].  


Reza Maulana, 2014. Landasan Falsafah . http://rezamaulana14.blogspot.com. [24 Maret 2015].


Risnandar, 2013. Makalah Landasan Dan Teknologi Pembelajaran. http://www.academia.edu/67215999. [24 Maret 2015].


Romi Dwi Syahri, 2013. Makalah Teknologi Pendidikan. http://romidwisyahri95.blogspot.com.[24 Maret 2015].


Faisal, 2013. Teknologi Pendidikan. http://faisalteknologi.blogspot.com/2013/05/html. [24 Maret 2015].   










[1] Reza Maulana, 2014. Landasan Falsafah . http://rezamaulana14.blogspot.com. [24 Maret 2015].
[2]Romi Dwi Syahri, 2013. Makalah Teknologi Pendidikan. http://www.slideshare.net/mobile/29524192. [23 Maret 2015].  
[3]Nasril Mokodompit, 2013. Landasan Filosofis Teknologi Pendidikan. https://nasrilmokodompit.wordpress.com. [23 Maret 2015].
                                 
[4]Efri Melcom, 2013. Kaitan Antara Filsafat Dengan Ilmu. http://efrimelcom.blogspot.com.Html. [24 Maret 2015].                           
[5]Ganjur, 2010. Landasan-Teori-Teknologi-Pendidikan-Teknologi-Informasi. https://ganjureducation.wordpress.com/2010/12/24. [24 Maret 2015].                                
[6]Romi Dwi Syahri, 2013. Makalah Teknologi Pendidikan. http://romidwisyahri95.blogspot.com.[24 Maret 2015].
[7]Yusuf Hadi Miarso,  Menyemai Benih Teknologi Pendidikan, hlm: 103-104.
[8] Risnandar, 2013. Makalah Landasan Dan Teknologi Pembelajaran. http://www.academia.edu/67215999. [24 Maret 2015].          

No comments:

Post a Comment